This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 24 Mei 2012

Lagu Kopral Kobong

KEBERSAMAAN


                             Trimakasih kawan-kawan semua, atas suguhan yang ada 
                             Suatu saat nanti kita bersama di reuni akbar bersama 
                             Walau susah senang kita bersama, walau ajal menghadap
                             Walau susah senang kita bersama langkah ku tak kan pernah hilang

                                             Angkat tanganmu marikita bersulang 
                                             Angkat gelas mari nyayikan
                                            Walau sederhana kita satu saudarah 
                         Lawan-lawan hancurkan, lawan-lawan hancurkan ,lawan-lawan hancurkan        

Selasa, 22 Mei 2012

                    HARD CORE

Musik hardcore adalah musik yang peminatnya sangat sedikit sekali, mungkin bisa di katakan bahwa musik hardcore adalah musik kaum minoritas. Musik hardcore sendiri masuk di kota Malang dan menarik minat para hardcore kids Malang di era 90 an. Kemudian musik hardcore semakin lama semakin menunjukan perkembangan yang sangat pesat. Lalu tak lama kemudian munculah sebuah nama Malang City Hardcore, yaitu sebuah scene atau komunitas yang dimana didalamnya adalah mereka yang peduli dan ingin memajukan musik hardcore di kota Malang.

Dengan sebuah gigs yang bisa dikatakan sederhana daripada konser musik yang mewah, hal tersebut dapat melahirkan band – band hardcore ternama di kala itu. Misalkan, Today Is Sturglle, Mutant, Direction For Use, Public Of Noise, Dinamix, Madpoint, Finishing Stroke, Total Alarm, Case Of Justice, Screming Factor, Primitive Chipanze, Last Warning, Target Locked, Hindsight, Breath Of Despair, Honesty, DLL.

Pada masa itu, untuk mendengarkan sebuah lagu hardcore, tidaklah seperti saat ini yang dengan mudah mendengarkan lagu hardcore dalam format mp3, mereka mendengarkan musik hardcore hanya dengan sebuah kaset usang dan sebuah tape. Itu pun kita harus memperbaiki kembali kaset tersebut apabila pita kasetnya mengalami masalah, tapi saat ini lewat media komputerisasi kita bahkan bisa secara enjoy menikmati sebuah lagu hardcore tanpa perlu repot – repot memperbaiki pita kaset ataupun tape yang sudah usang.

Kemudian mereka juga menggunakan media tulisan yang seadanya, sebuah newsletter yang berupa fotocopy dimasa tersebut sama layaknya dengan majalah – majalah free magz saat ini, bahkan kala itu dunia maya masih belum terusik. Akan tetapi dari segala usaha dan perjuangan para hardcore kids zaman dahulu selama bertahun – tahun, sedikit demi sedikit musik hardcore di kota Malang mulai dikenal luas di kota – kota sekitar pulau jawa dan menjadi salah satu SCENE HARDCORE yang paling besar di Indonesia.

Akan tetapi tak lama kemudian setelah musik hardcore di kenal masyarakat dan sudah menjadi pegangan hidup para hardcore kids, Malang City Hardcore mengalami kemunduran di karenakan genre – genre yang dibawa oleh kaum pendatang seperti melodic, screamo, dll.

Kemudian musik hardcore mulai redup dan digantikan dengan genre lain seperti melodic yang memiliki era di tahun 2003 an, kemudian music screamo yang hanya numpang lewat saja dan tidak mungkin untuk bertahan lama, kemudian di teruskan oleh music metal. Tapi bagi para hardcore kids perjauangan tidak sampai disitu.

Di awal tahun 2009 ini music hardcore kota Malang kembali dengan wajah yang baru dengan regenerasi yang baru berkat kehadiaran scene Malang City Hardcore East Coast Empire. Dan hardcore di kota Malang seakan hidup kembali dan tidak ingin menjadi genre – genre lain yang hanya seumur jagung.

East Coast Empire adalah sebuah komunitas hardcore ( hardcore crew ) dari sebuah scene besar Malang City Hardcore ( MCHC ). East Coast Empire yang secara haraflah berari “kerajaan timur” adalah sebuah hardcore crew yang berasal dari kota Malang, yang nonabene berada di pulau jawa bagian timur.

East Coast Empire membawa misi untuk menunjukan pada khalayak bahwa scene MCHC belum mati. Setelah banyak terjadi pro dan kontra mengenai MCHC, baik intern maupun ekstern dari scene itu sendiri.

East Coast Empire merasa perlu untuk membangun kembali scene MCHC, mengembalikan kejayaan MCHC yang beberapa tahun lalu pernah sangat popular, khususnya di kalangan Hardcore Kids Indonesia.

East Coast Empire yang sebagian orangnya adalah orang – orang yang dulu pernah bahu – membahu membangun scene MCHC, merasa bahwa saat ini scene hardcore di kota Malang hampir tanpa pergerakan. Saat ini scene hardcore di kota Malang adalah sebuah scene besar yang terpecah – pecah.

Beberapa tahun lalu, Hardcore Kids di kota malang berusahan bersatu dalam satu scene, akan tetapi saat ini Hardcore Kids banyak membuat komunitas – komunitas dan kelompok – kelompok kecil dengan membawa paham dan kepentingan – kepentingan pribadi mereka sendiri, tanpa berusaha untuk menjaga nama scene MCHC yang secara tidak langsung juga membesarkan nama mereka.

East Coast Empire adalah sebuah tempat dimana di dalamnya terdapat orang – orang yang masih perduli terhadap kelanjutan scene MCHC, terlepas dari segala hal yang melabeli mereka.

Scene East Coast Empire ini berdiri berkat perjuangan yang selaras dengan visi dan misi generasi tua dan generasi muda. Dan kini saatnya generasi muda melakukan perjuangan mereka seperti apa yang telah di capai hardcore kids lama terdahulu. Perjuangan ini dari sekelumit orang yang bersedia untuk bertahan demi Malang City Hardcore.

Apalagi scene East Coast Empire saat ini memiliki band – band hardcore seperti Children Of Terror, Last Threat, Step Ahead, Give Me A Chance, Burning My soul, Hand Of Hope, Little Murder, Difficult And Hard, Hard Trick, Hail Of Fire, Holyshit, Hold On dan Screamsick99. Dan dukungan dari band – band lawas seperti Breath Of Despair, Hindsight, Case Of Justice dan Honesty.

Dan perjuangan ini semua adalah sebuah komitmen untuk tetap loyal terhadap Malang City Hardcore agar tetap menjadi scene yang menjadi panutan kota lain untuk memaikan music hardcore itu sendiri.
ASAL-USUL KOTA SURABAYA



Pada umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut asal nama Surabaya adalah dari untaian kata Sura dan Baya atau lebih popular dengan sebutan Sura ing Baya, dibaca Suro ing Boyo. Paduan dua kata itu berarti “berani menghadapi tantangan”.
Namun berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut. Di dua alam ini ada dua penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, tetapi dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah ikan Sura (Suro) dan Buaya (Boyo).
Perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda. Begitu pulalah warga Surabaya ini, mereka berasal dari berbagai suku, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan, ejaan nama Surabaya awalnya adalah: Curabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M. Dalam prasasti itu tertulis Curabhaya termasuk kelompok desa di tepi sungai sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti).
Nama Surabaya muncul dalam kakawin Negarakartagama tahun 1365 M. Pada bait 5 disebutkan: Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun. Artinya: Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun.
Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini, terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.
Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14.

Senin, 21 Mei 2012

SEPAK BOLA

Asal Usul Sejarah Liga Super Indonesia atau LSI atau ISL


Liga Super Indonesia  adalah kompetisi sepak bola antar klub profesional level tertinggi di Liga Indonesia.
LSI diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia (dahulu BLI) yang dimiliki oleh PSSI.
LSI dikuti 18 tim terbaik yang akan saling bertanding satu putaran penuh kompetisi 34 pertandingan, kandang dan tandang.
Sistem operasi untuk setiap klub peserta dengan promosi dari dan degradasi ke Divisi Utama.
Musim kompetisi tidak menentu dan disesuaikan dengan kondisi atau suasana yang terjadi di Indonesia.
Sponsor utama LSI adalah perusahaan rokok Djarum, oleh karena itu LSI secara resmi dikenal sebagai Djarum Indonesia Super League.
pada musim 2009-2010 AFC menobatkan liga Super Indonesia adalah liga terbaik peringkat 8th se-Asia, dan Liga terbaik se-Asia Tenggara.


ASAL USUL SUPER LIGA INDONESIA
Ide dari pelaksanaan sistem liga ini telah dikemukakan sejak tahun 2007 sebagai upaya mewujudkan profesionalisme dalam persepak-bolaan nasional.
Alasan lainnya adalah karena format Liga Indonesia pada tahun 2007 yang kurang adil, berlangsung secara sistem setengah kompetisi.
Sistem ini menyebabkan tingginya tingkat ketegangan pertandingan dan sangat berpotensi memicu kerusuhan. Alasan terakhir adalah karena terlalu banyak tim peserta (38 tim).

Sejarah SENGKETA

Melihat sejarah Bonekmania dan Aremania

Supporter – Dalam beberapa dekade terakhir, sudah menjadi keputusan yang lumrah dikeluarkan petugas keamanan dalam hal ini polisi untuk memblokade gelombang suporter sepakbola saat terjadi pertandingan super big match di Indonesia, khususnya suporter tim tamu.
Alasannya, untuk menjaga ketertiban, kelancaran dan keamanan pertandingan atau kota. Misalnya saja pertandingan Arema Vs Persebaya, Persebaya Vs Persela, Persija Vs Persib Bandung serta beberapa pertandingan penuh gengsi lainnya yang berlatar belakang kurang mengenakan bagi suporter kedua tim.
Sudah jelas, pada partai-partai tersebut, suporter tim tamu akan mendapat himbauan keras agar tidak hadir di kota tim tuan rumah, apalagi sampai di stadion. Kalau tidak, jelas akan rawan aksi brutal atau anarkis yang sulit dikendalikan pihak keamanan. Apalagi, budaya dan tingkat kedewasaan suporter Indonesia terbilang masih sangat rendah dalam menerima hasil pertandingan yang berakhir pahit.
Tapi saya heran, pada beberapa pertandingan-pertandingan big match lainnya yang juga mempertemukan dua tim kuat, dengan dukungan suporter kedua tim yang juga terkenal fanatik, masih ada yang bisa happy ending alias lancar, tertib, damai bahkan jauh dari kesan anarkis.
Misalnya saja pertandingan Arema melawan Persela Lamongan, Arema melawan Persija dan Persebaya melawan Persik Kediri. Meski berlangsung keras, toh pertandingan tersebut bisa berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Bahkan, suporter kedua tim juga tampak damai, saling berangkulan di dalam stadion dalam mendukung tim kesayangannya.
Nah, hanya suporter yang memiliki tingkat kedewasaan tinggi saja yang ingin merubah budaya benci menjadi kedamaian. Dan saya lihat, sebenarnya semua suporter memiliki potensi itu. Potensi merubah budaya kebencian menjadi perdamaian.
Sebab sampai saat ini, pendukung Persebaya alias Bonek yang terkenal keras, bersama pendukung Persib alias Viking, Persekabpas alias Sakeramania dan Persikmania (pendukung Persik Kediri), masih tetap harmonis dan terjaga. Begitu juga Aremania bersama The Jak, LA Mania.
Memang, awal kebencian beberapa suporter dipicu akibat sejarah kelam kedua tim saat bertanding away sehingga berkesinambungan di laga-laga selanjutnya. Perlakuan yang kurang memiliki kesan damai, baik kepada tim maupun suporter, menjadi faktor aksi balas dendam.
Tapi kalau boleh jujur, saya juga sependapat dalam tulisan tentang “Ini Resep Mendamaikan Suporter Jatim” oleh Oryza A. Wirawan pada tanggal 4 Januari lalu bahwa tidak ada manfaat lebih bagi daerah masing-masing dari perseteruan suporter jika kebanggaan itu berakhir dengan sifat yang destruktif.
Malahan, dalam hal ini klub sudah pasti akan merasa dirugikan akibat sanksi. Akibatnya, klub akan mengeluarkan anggaran lebih untuk membayar denda. Belum lagi, klub juga akan dikenai denda larangan main di kandang sendiri di laga selanjutnya atau bermain tanpa penonton. Tentunya, selain mengeluarkan biaya lebih, klub juga terancam tidak akan mendapat pemasukan dari hasil penjualan tiket penonton.
Nah, berkaca dari itu semua. Saya yakin, dari dalam hati semua suporter Indonesia yang paling dalam, juga memiliki cita-cita perdamaian, menghentikan perselisihan dengan melupakan sejarah kelam.
Dan untuk membuka lembaran baru sejarah perjalanan suporter Indonesia itu, momen yang paling tepat adalah pada laga super big match antara Persebaya melawan Arema Malang pada Sabtu (16/1/2010) lusa di Stadion Gelora 10 November.
Perdamaian kedua suporter yang terkenal tak akur selama ini, pantas menjadi tonggak kebangkitan suporter Indonesia. Bahkan, cukup layak menjadi catatan tinta emas sejarah sepakbola Indonesia. Dan dari kebangkitan ini, Insya Allah kedatangan suporter untuk mendampingi tim kesayangannya ke daerah lain, kedepan tidak akan diharamkan lagi.
Memang, mengkoordinir puluhan ribu massa tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Apalagi di tingkat elemen terbawah yang memang sulit dikendalikan. Dan kali ini, saya ingin mengambil contoh dari apa yang sudah dilakukan beberapa suporter yang hingga kini masih bersahabat dan harmonis tanpa mengurangi kaidah-kaidah dalam tulisan “Ini Resep Mendamaikan Suporter Jatim”.
Ya, pada dasarnya. Bentuk silaturahmi dan perjamuan antar suporter menurut saya bisa melebur kebencian menjadi persaudaraan. Kita ambil contoh saja, ketika Bonek ke Bandung, mereka juga mendapat sambutan luar biasa dari suporter Bandung alias Viking, meski lawan yang dihadapi bukan tim kebanggaannya. Mulai lokasi menginap dan konsumsi juga disediakan selama mereka di Bandung. Dan itu juga terjadi sebaliknya saat Viking berada di Surabaya.
Nah, kalau bisa meniru hal itu, tidak mustahil pada laga Persebaya melawan Arema, Aremania bisa hadir di Gelora 10 November ataupun sebaliknya Bonek di Kanjuruhan.
Teknisnya pada langkah awal, kuota suporter yang hadir juga tidak boleh lebih dari 100 orang, mengingat kapasitas stadion dengan fanatisme penonton. Lalu, budaya menyambut kedatangan suporter yang telah terkoordinir hingga penjamuan di markas suporter tim tuan rumah bisa menjadi tradisi baru demi rasa persaudaraan.
Selain itu, hal ini juga bisa memberi kesan segan bagi suporter tamu jika mereka hendak berbuat ulah. Bahkan, ini juga melatih suporter mana pun agar selalu terkoordinir.
Kalaupun ada suporter yang tidak terkoordinir datang, sesuai kesepakatan, tidak akan ada jaminan keamanan bagi suporter yang dianggap liar. Bahkan, soal hal ini petugas keamanan bisa memulangkan jika terbukti bukan diantara 100 orang suporter seperti dalam kuota.
Nah, saya menyarankan, Bonek yang dulu terkenal dengan Bondo Nekat kini berganti Bondo dan Nekat, pantas disebut sebagai pelopor misi perdamaian ini jika bisa memberikan sambutan kepada Aremania yang ingin datang ke Surabaya dalam laga super big match nanti.
Tidak ada salahnya Bonek mengubur sejarah kelam demi meraih simpati saat akan datang ke Malang nanti pada laga away Persebaya. Mulai penyambutan sejak perbatasan masuk Kota Surabaya, penjamuan di markas Bonek hingga keberangkatan secara bersama-sama ke stadion akan menjadi pertunjukkan yang layak mendapat acungan empat jempol.
Di dalam stadion, selain hijau, juga ada biru. Nyanyian suporter pun saling sahut menyahut, tanpa ada unsur provokatif. Dan ini tentu saja tidak untuk Bonek saja, tapi saat Persebaya tandang ke Malang, Aremania juga wajib melakukan hal serupa. Istilahnya, bertamu harus ijin tuan rumah. Sebaliknya, sebagai tuan rumah, layak memberikan jamuan yang sepantasnya. Apalagi, dari segi geografis, Bonek dan Aremania adalah sama-sama suporter Jatim.
FIFA selalu mengkampanyekan sikap respect alias menghargai dalam setiap even dan pertandingan. Jadi, tidak ada salahnya kita juga bisa menghargai satu sama lain, khususnya sesama suporter.
Saya bukan Bonek dan saya juga bukan Aremania, tapi saya ingin melihat dua suporter paling fanatik di Indonesia ini bisa berdamai, duduk bersama dan menghijau-birukan stadion. Begitu juga dengan suporter lain, Aremania dan Sakeramania bersatu, Aremania dan Persikmania bersatu, Aremania dan Viking bersatu, Bonek dan LA mania bersatu, Bonek dan The Jak bersatu serta Viking dan The Jak bersatu.
Bahkan saya yakin, perdamaian Bonek dan Aremania dalam arti sesungguhnya, akan menjadi panutan suporter lain yang butuh banyak belajar dari Bonek dan Aremania. Damailah suporter Indonesia!.

AREMA INDONESIA

ASAL MULAI NAMA AREMA TERKENAL SERTA SEMAKIN MENDUNIA

Versi pertama adalah menurut sejarah, yaitu pada jaman kerajaan Singosari saat di perintah oleh Kertanegara.
Ada seorang patih yang sungguh berjasa mematahkan beberapa pemberontakan serta membesarkan Kerajaan Singosari lewat beberapa penaklukkan seperti yang di tulis di kitab Negarakretagama dan Kidung Panji Wijayakrama. Nama patih tersebut adalah Patih Kebo Arema. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara demikian juga dengan pemberontakan Cayaraja. Patih Kebo Arema juga sukses menaklukkan Kerajaan Pamalayu di Jambi dan membuat Singosari menguasai selat Malaka. Sejarah kepahlawanan Patih Kebo Arema seperti tengelam dengan kebesaran Kertanegara. Beda dengan Majapahit, yang lebih terkenal Gajahmadanya dari pada rajanya.
Versi kedua adalah terbentuknya sebuah geng suporter yang terbentuk melalui proses alami. Jika dirunut kejadianya begini. Pertama-tama muncul sebuah kumpulan yang selalu mendukung Persema, dan di kala itu orang-orang luar Malang menyebut dengan Arek Malang. Kemudian muncul inisiatif dari Lucky Yacob, yang kemudian membentuk klub Arema dan sekarang menjadi ikon penting kota Malang, Arema tak bisa di lepas dengan Malang, kalau kita menyebut Malang pasti pikiran kita langsung juga menuju Arema, demikian juga sebaliknya.
Versi ketiga adalah perseteruan abadi antara Bonek (Surabaya) dan arek Malang. Entah sejak kapan di mulainya perseteruan ini. Tapi, karena perseteruan inilah yang membuat Arema semakin melambung dan terkenal. Warga Malang pun semakin fanatik dengan Arema. Sampai sekarang keteganggan antara keduanya masih berlanjut. Namun, Aremania Aremanita semakin dewasa dan hanya tersenyum bila lihat Bonek mengejek. Fakta sudah berbicara, yaitu saat Arema dan Persebaya bertemu di Kanjuruhan dalam pertandingan putaran kedua Indonesia Super Liga, di sini jelas sekali bahwa Aremania Aremanita sudah dewasa dan lagu-lagu yang dinyanyikan pun gak berbau dan sama sekali tidak mengejek Bonek. Namun Aremania Aremanita gak akan pernah takut dengan hooligans-holigans keras seperti hooligans dari Inggris, apalagi Bonek !
Bonek sendiri sebenarnya ikut membesarkan serta membuat Arema terkenal, lihat saja nyanyian mereka yang selalu ada Aremanya, tanpa sadar mereka mebuat Arema semakin mendunia. Terima kasih Bonek ????
ASAL USUL AREMA END AREMANIA

Add caption

Dalam menelusuri asal usul Aremania, maka ada dua kata yang perlu dicermati perbedaannya. Pertama adalah Arema dan kedua adalah Aremania.
Arema adalah nama yang selalu digunakan oleh organisasi, baik formal dan resmi maupun informal. Organisasi formal dan resmi seperti : “Arema” klub sepakbola yang saat ini sangat bagus dan solid yang ditatar oleh Benny Dollo dengan pemain-pemain yang bagus seperti Firman Utina, Putu Gede, Erol, Joao Carlos, Serge dan Hitta (yang suka jotos supportere dewe).
Sedangkan “Aremania” merupakan roh dari Arema-Arema yang ada. Dimana insan kota Malang yang memiliki persaudaraan yang bersifat “gotong-royong” disebut Arema-nia. Dalam aktivitas apapun (supporter bola, supporter pertunjukan musik, kegiatan amal dan lain-lain aktivitas), bila mengatas-namakan Arema pasti akan dilakukan secara “gotong-royong”. Mau berkorban secara material dari kantong pribadi untuk Arema-Arema yang ada. Itulah Arema-nia
Arema

Tahun 1976 sampai dengan 1978, anak muda kota Malang dilanda demam “geng” atau nama-nama kelompok. Nama-nama “geng” dipasang di tiang listrik dan spanduk yang dipasang diantara pohon-pohon di pinggir jalan, mulai dari Singosari – Blimbing – Lowokwaru – Malang kota – Kebalen – Kota Lama – Sukun – Kidul Dalem – Kawi – Dinoyo.
Nama-nama kelompok antara lain yang masih diingat ada : Higam, RAC, JC, Ermera, Waker, Satria, Birawa, Trisula, Tongsu, Arekar, Arema, Loko, Arka, Arkola, Jibril dan lain-lain.
Sejak tahun 1979, demam geng ini mulai redup. Namun nama Arema menjadi menarik banyak orang kota Malang karena simple dan mudah diingat. Disamping itu banyak kendaraan berupa truk dan angkot yang memasang sticker “Arema”.
Sebenarnya dengan bahasa “wali’an”, nama “kera ngalam” cukup popular. Namun karena terlalu panjang dengan dua kata, maka agak kurang pas dan kurang digunakan oleh insan kota Malang. Mereka lebih memilih “Arema”.
Kelompok yang awalnya menggunakan nama “Arema” banyak tersebar antara PoloWijen – Blimbing (masjid Sabilillah) – Glintung – Bantaran – Irama – Lowokwaru – Sarangan. Disamping itu Station Radio GL Glintung (saat ini sudah tutup) banyak mengudarakan nama Arema dalam siarannya.
Pada tahun yang sama juga muncul organisasi yang formal dan resmi seperti antara lain : Gajayana, Javanova. Gajayana lebih berfokus kepada cabang olah raga tinju. Sedangkan Javanova selain cabang tinju, juga berapa cabang olah raga lain seperti otomotif (gokart).
Belakangan barulah muncul organisasi sepakbola yang menggunakan nama “Arema”, dengan logo/ lambang “Singo Edan”. Beberapa tahun berkiprah langsung menggeser “Persema”. Klub bola inilah yang langsung melejitkan nama Arema ke pentas nasional dan regional (warga Indonesia di Malaysia dan Australia banyak juga yang menggunakan nama Arema).
Aremania

Aremania boleh dibilang saat ini merupakan roh bagi klub bola Arema.
Sebenarnya semua insan kota Malang yang memiliki persaudaraan yang bersifat “gotong-royong” untuk kepentingan masyarakat kota Malang itulah yang disebut Arema-nia. Dalam aktivitas apapun yaitu sebagai supporter bola, supporter pertunjukan musik, kegiatan amal dan lain-lain aktivitas, bila mengatas-namakan Arema pasti akan dilakukan secara “gotong-royong”. Disamping itu mau berkorban secara material dari kantong pribadi untuk kota Malang/ Arema. Itulah Arema-nia.
Pembuatan logo/ lambang ‘Singo Edan’ yang banyak terpampang di dinding-dinding rumah besar, dengan lukisan yang indah sebagian besar dibiayai sendiri oleh pelukisnya. Demikian juga patung-patung “singo edan” juga dibuat dengan biaya sendiri.
Komunitas Aremania ini, dari yang kecil sampai yang besar sangat terorganisir dengan rapi. Paling kecil Aremania tingkat RT, Aremania tingkat RW, Aremania tingkat Kelurahan, Aremania tingkat Kecamatan dan yang paling besar adalah Aremania tingkat Kota yaitu “Aremania”.
Masing-masing tingkatan Aremania ini ada yang mengorganisir secara otomatis berdasarkan kebersamaan, kecuali tingakatan Kota.
Demikian juga sumber keuangan dari Aremania tingkatan RT, RW dan Kelurahan berasal dari masing-masing individu Aremania. Prinsip kebersamaan dan gotong royong sangat kental dalam Aremania.
Prinsip tersebut diperkirakan akan melanggengkan keberadaan Aremania sebagai roh bagi klub-klub bernama Arema yang ada di kota Malang. Semoga.
Roh dari Aremania inilah yang melambungkan semangat dan kepercayaan klub bola Arema pada tahun 2005. Roh ini juga yang membawa Aremania mendatangi PSSI untuk menagih janji agar Arema bisa ikut laga champion.
Roh dari Aremania ini juga yang akhirnya membuat Persema (klub tua kota Malang) menjadi tanpa daya, karena ditinggalkan begitu saja oleh insan kota Malang.